{"id":5227,"date":"2026-08-29T09:25:18","date_gmt":"2026-08-29T02:25:18","guid":{"rendered":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/?p=5227"},"modified":"2026-08-29T09:25:18","modified_gmt":"2026-08-29T02:25:18","slug":"konglomerasi-keuangan-uu-p2sk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/konglomerasi-keuangan-uu-p2sk\/","title":{"rendered":"Konglomerasi Keuangan UU P2SK: Kewajiban Grup Keuangan"},"content":{"rendered":"<div class=\"dti-snippet-answer\" style=\"margin:0 0 24px;padding:16px 20px;border-left:4px solid #E85A5A;background:#fdf6f6;border-radius:6px\"><strong>Jawaban singkat:<\/strong> Konglomerasi keuangan adalah dua atau lebih lembaga jasa keuangan dalam satu grup karena keterkaitan kepemilikan atau pengendalian. UU P2SK 4\/2023 menaikkan pengaturannya ke level undang-undang, mengukuhkan pengawasan terintegrasi OJK, dan menjadi dasar hukum bagi kewajiban pelaporan terintegrasi yang dikoordinasikan Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan atau entitas utama grup.<\/div>\n<p>Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) mengubah cara regulator memandang grup usaha di sektor jasa keuangan. Konsep <strong>konglomerasi keuangan UU P2SK<\/strong> menaikkan pengaturan yang sebelumnya hidup di level Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) menjadi mandat setingkat undang-undang, lengkap dengan pengakuan atas entitas induk yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan grup. Bagi grup yang menaungi bank, perusahaan asuransi, perusahaan pembiayaan, perusahaan efek, dan dana pensiun sekaligus, perubahan ini berdampak langsung pada struktur organisasi, arsitektur data, dan siklus pelaporan.<\/p>\n<figure style=\"margin:20px 0\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/dti-batch-1784997988-30387.jpg\" alt=\"Ilustrasi PIKK Reporting \u2014 Konglomerasi Keuangan UU P2SK: Kewajiban Grup Keuangan\" style=\"max-width:100%;height:auto;border-radius:8px\" title=\"\"><figcaption style=\"font-size:13px;color:#5B6B85;margin-top:6px\">PIKK Reporting dari DTI.<\/figcaption><\/figure>\n<h2>Definisi Konglomerasi Keuangan UU P2SK dan Unsur Pembentuknya<\/h2>\n<p>Secara substansi, konglomerasi keuangan dipahami sebagai dua atau lebih Lembaga Jasa Keuangan (LJK) yang berada dalam satu grup karena keterkaitan kepemilikan dan\/atau pengendalian. Yang menentukan bukan semata bentuk badan hukum atau nama grup, melainkan hubungan pengendalian secara faktual. Dua entitas yang secara legal terpisah tetap dapat dianggap satu konglomerasi keuangan apabila dikendalikan oleh pemegang saham pengendali yang sama.<\/p>\n<p>Unsur yang perlu Anda periksa saat memetakan posisi grup:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Jumlah dan jenis LJK<\/strong> dalam grup, termasuk apakah berasal dari sektor jasa keuangan yang berbeda (perbankan, pasar modal, perasuransian, penjaminan, dana pensiun, lembaga pembiayaan).<\/li>\n<li><strong>Keterkaitan kepemilikan<\/strong>, baik langsung maupun melalui lapisan holding, termasuk kepemilikan tidak langsung yang menghasilkan pengendalian efektif.<\/li>\n<li><strong>Keterkaitan pengendalian<\/strong> tanpa kepemilikan mayoritas, misalnya melalui hak menentukan pengurus atau perjanjian pemegang saham.<\/li>\n<li><strong>Skala grup<\/strong>, karena OJK menetapkan kriteria dan ambang batas tertentu \u2014 antara lain berbasis total aset \u2014 yang menentukan bentuk kelembagaan induk yang harus dibentuk.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Poin terakhir penting: tidak semua grup keuangan diperlakukan sama. Kriteria terperinci, termasuk ambang ukuran dan tenggat penyesuaiannya, diatur dalam peraturan pelaksana. Karena itu, langkah pertama yang tepat adalah memverifikasi klasifikasi grup Anda terhadap ketentuan POJK yang berlaku, bukan berasumsi dari struktur organisasi lama.<\/p>\n<h2>PIKK sebagai Titik Tunggal Akuntabilitas Grup<\/h2>\n<p>Kontribusi paling praktis dari UU P2SK adalah pengukuhan Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan (PIKK). Sebelumnya, koordinasi grup umumnya dijalankan melalui mekanisme <em>entitas utama<\/em> \u2014 biasanya LJK terbesar dalam grup \u2014 yang ditunjuk untuk mengoordinasikan tata kelola dan manajemen risiko anggota lain. Pendekatan itu memiliki kelemahan struktural: entitas utama adalah anak perusahaan yang setara secara hukum dengan anggota grup lain, sehingga kewenangannya untuk memerintah entitas sejawat bersifat terbatas.<\/p>\n<p>PIKK menempatkan akuntabilitas pada perusahaan induk yang secara hierarkis berada di atas seluruh LJK anggota. Dengan begitu, kewajiban tata kelola terintegrasi, manajemen risiko terintegrasi, dan pelaporan terintegrasi punya pemilik yang jelas. Konsekuensinya, PIKK memerlukan organ, sumber daya, dan sistem informasi sendiri \u2014 bukan sekadar papan nama di atas struktur grup. Rincian kewajiban penyelenggaraan usaha PIKK, termasuk komponen dan siklus laporannya, diuraikan dalam <a href=\"\/blog\/kewajiban-pelaporan-pikk-pojk-30-2024\/\">kewajiban pelaporan PIKK menurut POJK 30\/2024<\/a>.<\/p>\n<style>\n.dfig{--nv:#2C4A7E;--nvd:#1F365C;--co:#E85A5A;--cod:#C84545;--gr:#4E9C6E;--am:#E39B54;--ink:#111827;--mu:#4B5563;--ln:#E5E7EB;--ti:#F3F4F6;margin:26px 0;border:1px solid #E5E7EB;border-radius:12px;overflow:hidden;background:#fff}.dfig *{box-sizing:border-box}.dfig .dcap{font-size:12px;font-weight:700;letter-spacing:.5px;text-transform:uppercase;color:var(--nv);padding:10px 16px;border-bottom:1px solid var(--ln);background:var(--ti)}.dfig .dbd{padding:20px 16px}.dfig .dft{font-size:12px;color:var(--mu);font-style:italic;margin-top:14px;line-height:1.45}.darr{text-align:center;color:var(--co);font-size:22px;font-weight:700;margin:11px 0;line-height:1}.dcmp3 .hdr,.dcmp3 .row{display:grid;grid-template-columns:1.05fr 1fr 1fr;gap:6px 10px;align-items:center}.dcmp3 .hdr{margin-bottom:6px}.dcmp3 .hh{font-weight:700;font-size:12px;color:#fff;background:var(--nv);padding:7px 10px;border-radius:6px;text-align:center}.dcmp3 .hx{}.dcmp3 .row{padding:8px 0;border-top:1px dashed var(--ln)}.dcmp3 .cr{font-size:12px;font-weight:700;color:var(--ink)}.dcmp3 .cv{font-size:11.5px;line-height:1.35;color:var(--ink)}.dcmp3 .cv .m{font-weight:700;margin-right:3px}.mg{color:var(--gr)}.mr{color:var(--co)}.ma{color:var(--am)}.dcmp3 .cl2{display:none}@media(max-width:640px){.dcmp3 .hdr{display:none}.dcmp3 .row{grid-template-columns:1fr;gap:3px}.dcmp3 .cr{font-size:13px}.dcmp3 .cl2{display:inline;font-weight:700;color:var(--mu);margin-right:4px}}.dt2{display:grid;grid-template-columns:1fr 1fr;gap:12px}.dt2 .col{border:1px solid var(--ln);border-radius:10px;overflow:hidden;display:flex;flex-direction:column}.dt2 .h{padding:11px 13px;font-weight:700;font-size:13px}.dt2 .ht{background:var(--ti);color:var(--ink)}.dt2 .hn{background:var(--nv);color:#fff}.dt2 .s{display:flex;gap:9px;padding:9px 13px;font-size:11.5px;line-height:1.4;color:var(--ink);border-bottom:1px dashed var(--ln)}.dt2 .s .n{flex:none;width:20px;height:20px;border-radius:50%;background:var(--nv);color:#fff;font-size:11px;font-weight:700;display:flex;align-items:center;justify-content:center}.dt2 .s.mr{color:var(--co)}.dt2 .s.mg{color:var(--gr)}.dt2 .bg{margin-top:auto;padding:9px 13px;font-size:11.5px;font-weight:700;border-top:1px solid var(--ln)}.dt2 .bg.g{color:var(--gr)}.dt2 .bg.r{color:var(--co)}@media(max-width:640px){.dt2{grid-template-columns:1fr}}.dflow{display:flex;gap:12px;align-items:stretch}.dflow .st{flex:1;position:relative;background:var(--nv);color:#fff;border-radius:10px;padding:12px;display:flex;flex-direction:column;gap:5px}.dflow .st .n{width:23px;height:23px;border-radius:50%;background:var(--co);color:#fff;font-weight:700;font-size:12px;display:flex;align-items:center;justify-content:center}.dflow .st b{font-size:13px;line-height:1.2}.dflow .st small{font-size:10.5px;line-height:1.3;color:rgba(255,255,255,.82)}.dflow .st:not(:last-child)::after{content:'\u203a';position:absolute;right:-12px;top:50%;transform:translateY(-50%);color:var(--co);font-size:22px;font-weight:700;z-index:2}@media(max-width:760px){.dflow{flex-wrap:wrap}.dflow .st{flex:1 1 44%}.dflow .st::after{display:none}}@media(max-width:520px){.dflow .st{flex:1 1 100%}}.dfl2 .lb{font-size:11px;font-weight:700;text-transform:uppercase;letter-spacing:.5px;color:var(--nv);background:var(--ti);border-radius:6px;padding:6px 10px;margin:0 0 10px}.dfl2 .b2{margin-top:16px}.dt4{display:grid;grid-template-columns:1fr 1fr 1fr 1fr;gap:10px}.dt4 .col{border:1px solid var(--ln);border-radius:10px;overflow:hidden}.dt4 .h{padding:9px 11px;font-weight:700;font-size:12.5px}.dt4 .hk{background:var(--cod);color:#fff}.dt4 .ha{background:var(--am);color:var(--ink)}.dt4 .hn{background:var(--nv);color:#fff}.dt4 .hg{background:var(--gr);color:var(--ink)}.dt4 .r{padding:8px 11px;border-bottom:1px dashed var(--ln)}.dt4 .r:last-child{border:0}.dt4 .r .ml{display:block;font-size:9px;font-weight:700;text-transform:uppercase;letter-spacing:.3px;color:var(--mu);margin-bottom:2px}.dt4 .r .vv{font-size:11px;line-height:1.35;color:var(--ink)}@media(max-width:820px){.dt4{grid-template-columns:1fr 1fr}}@media(max-width:520px){.dt4{grid-template-columns:1fr}}.dc2{display:grid;grid-template-columns:1fr 1fr;gap:12px;position:relative}.dc2 .col{border:1px solid var(--ln);border-radius:10px;overflow:hidden}.dc2 .h{padding:11px 13px;font-weight:700;font-size:13px}.dc2 .ht{background:var(--ti);color:var(--ink)}.dc2 .hn{background:var(--nv);color:#fff}.dc2 .r{padding:8px 13px;border-bottom:1px dashed var(--ln)}.dc2 .r:last-child{border:0}.dc2 .r .ml{display:block;font-size:9px;font-weight:700;text-transform:uppercase;color:var(--mu);margin-bottom:2px}.dc2 .r .vv{font-size:11.5px;line-height:1.35;color:var(--ink)}.dchip{display:inline-block;background:var(--co);color:#fff;font-size:11px;font-weight:700;padding:3px 10px;border-radius:20px;margin:8px auto;text-align:center}.dc2wrap{text-align:center}@media(max-width:640px){.dc2{grid-template-columns:1fr}}.dsp .trig{background:var(--nv);color:#fff;border-radius:8px;padding:12px 14px;font-size:12.5px;font-weight:600;text-align:center}.dsp .cols{display:grid;grid-template-columns:1fr 1fr;gap:12px;margin-top:12px}.dsp .col{border:1px solid var(--ln);border-radius:10px;overflow:hidden}.dsp .cch{background:var(--co);color:#fff;font-size:11px;font-weight:700;text-align:center;padding:6px}.dsp .h{background:var(--nvd);color:#fff;font-weight:700;font-size:12.5px;padding:10px 12px}.dsp .r{padding:8px 12px;font-size:11.5px;line-height:1.4;color:var(--ink);border-bottom:1px dashed var(--ln)}.dsp .r:last-child{border:0}@media(max-width:640px){.dsp .cols{grid-template-columns:1fr}}.dacc .band{border-radius:8px;padding:12px 14px;text-align:center}.dacc .ojk{background:var(--nvd);color:#fff;font-weight:700;font-size:14px}.dacc .pikk{background:var(--nv);color:#fff}.dacc .pikk b{font-size:15px}.dacc .pikk .s{font-size:12px;color:rgba(255,255,255,.82);margin-top:2px}.dacc .lbls{display:flex;justify-content:space-between;font-size:11px;padding:8px 6px}.dacc .up{color:var(--co);font-weight:700}.dacc .dn{color:var(--mu)}.dacc .con{text-align:center;font-size:11px;color:var(--mu);margin:9px 0}.dacc .cards{display:grid;grid-template-columns:repeat(5,1fr);gap:8px}.dacc .lc{border:1px solid var(--ln);border-radius:8px;padding:9px 6px;text-align:center;font-size:11.5px;font-weight:600;color:var(--ink);background:#fff}.dacc .sub{text-align:center;font-size:11px;color:var(--mu);margin-top:8px}@media(max-width:640px){.dacc .cards{grid-template-columns:1fr 1fr}}.dt3{display:grid;grid-template-columns:1fr 1fr 1fr;gap:12px}.dt3 .col{border:1px solid var(--ln);border-radius:10px;overflow:hidden;display:flex;flex-direction:column}.dt3 .h{padding:11px 12px;font-weight:700;font-size:12.5px}.dt3 .ht{background:var(--ti);color:var(--ink)}.dt3 .ha{background:var(--am);color:var(--ink)}.dt3 .hg{background:var(--gr);color:#fff}.dt3 .r{padding:8px 12px;border-bottom:1px dashed var(--ln);font-size:11.5px;line-height:1.4;color:var(--ink)}.dt3 .r .ml{display:block;font-size:9px;font-weight:700;text-transform:uppercase;color:var(--mu);margin-bottom:2px}.dt3 .vd{margin-top:auto;padding:9px 12px;font-size:11.5px;font-weight:700;border-top:1px solid var(--ln)}.dt3 .vd.n{color:var(--mu)}.dt3 .vd.a{color:#b5791f}.dt3 .vd.g{color:var(--gr)}@media(max-width:640px){.dt3{grid-template-columns:1fr}}<\/style>\n<figure class=\"dfig dacc\"><figcaption class=\"dcap\">Struktur akuntabilitas konglomerasi keuangan di bawah UU P2SK<\/figcaption><div class=\"dbd\">\n<div class=\"band ojk\">OJK \u2014 Pengawasan terintegrasi<\/div>\n<div class=\"lbls\"><span class=\"up\">Pelaporan terintegrasi \u2191<\/span><span class=\"dn\">Pengawasan dan sanksi administratif \u2193<\/span><\/div>\n<div class=\"band pikk\"><b>PIKK \u2014 Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan<\/b><\/p>\n<div class=\"s\">Titik tunggal akuntabilitas grup<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"con\">Kepemilikan dan\/atau pengendalian<\/div>\n<div class=\"cards\">\n<div class=\"lc\">Bank<\/div>\n<div class=\"lc\">Perusahaan Asuransi<\/div>\n<div class=\"lc\">Perusahaan Pembiayaan<\/div>\n<div class=\"lc\">Perusahaan Efek<\/div>\n<div class=\"lc\">Dana Pensiun<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"sub\">LJK anggota \u2014 tetap menyampaikan laporan sektoral masing-masing<\/div>\n<p class=\"dft\">Ilustrasi struktur umum. Komposisi LJK anggota dan bentuk kelembagaan induk mengikuti kriteria yang ditetapkan OJK dalam ketentuan pelaksana.<\/p>\n<\/div>\n<\/figure>\n<h2>Kewajiban Pelaporan Terintegrasi dan Cakupannya<\/h2>\n<p>Pelaporan terintegrasi bukan penjumlahan laporan anak perusahaan. Ia menuntut pandangan konsolidatif atas risiko dan permodalan grup, termasuk eksposur yang saling meniadakan atau justru menumpuk lintas entitas. Kerangka pengaturan terintegrasi bagi konglomerasi keuangan bertumpu pada beberapa pilar yang saling terkait:<\/p>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th>Pilar<\/th>\n<th>Fokus<\/th>\n<th>Implikasi data<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td>Tata kelola terintegrasi<\/td>\n<td>Struktur organ, komite, fungsi kepatuhan dan audit intern lintas entitas<\/td>\n<td>Registri kebijakan, matriks kewenangan, jejak persetujuan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Manajemen risiko terintegrasi<\/td>\n<td>Profil risiko agregat grup, termasuk risiko transaksi intra-grup dan konsentrasi<\/td>\n<td>Taksonomi risiko seragam, pemetaan eksposur antar-entitas<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Permodalan terintegrasi<\/td>\n<td>Kecukupan modal pada level konglomerasi, bukan hanya per entitas<\/td>\n<td>Data permodalan dengan tanggal posisi yang selaras<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Pelaporan berkala<\/td>\n<td>Penyampaian laporan sesuai periode dan format yang ditetapkan OJK<\/td>\n<td>Validasi format, kalender jatuh tempo, arsip versi laporan<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Laporan disampaikan melalui kanal pelaporan daring OJK dengan format dan periode yang ditentukan regulator. Karena penyampaian bersifat berkala dan tervalidasi secara sistem, kesalahan struktur data atau ketidakcocokan antar-entitas akan tertolak \u2014 bukan terkoreksi diam-diam. Inilah yang membuat kesiapan data menjadi isu utama, bukan isu teknis sekunder.<\/p>\n<h2>Implikasi Nyata bagi Grup Keuangan<\/h2>\n<h3>Masalahnya bukan pelaporan, melainkan rekonsiliasi<\/h3>\n<p>Dalam praktik, hambatan terbesar muncul jauh sebelum laporan disusun. Bank menggunakan kalender akuntansi dan taksonomi produk yang berbeda dari perusahaan asuransi; perusahaan pembiayaan mencatat kualitas aset dengan skema klasifikasi tersendiri. Ketika angka-angka itu harus dirangkum ke satu profil risiko grup, tim PIKK menghabiskan sebagian besar waktu untuk menyamakan definisi, bukan menganalisis risiko. Tanpa lapisan pemetaan data yang disepakati, setiap siklus pelaporan menjadi proyek manual yang berulang.<\/p>\n<h3>Transaksi intra-grup menjadi objek perhatian<\/h3>\n<p>Pengawasan terintegrasi menaruh perhatian khusus pada transaksi antar-anggota konglomerasi: penempatan dana, pemberian jaminan, reasuransi internal, hingga penyaluran pembiayaan kepada pihak terafiliasi. Grup perlu memiliki inventaris transaksi intra-grup yang dapat direkonsiliasi dua arah \u2014 tercatat konsisten di kedua entitas. Selisih pencatatan yang di masa lalu dianggap wajar kini berpotensi menjadi temuan pengawasan.<\/p>\n<h3>Beban tata kelola yang tidak bisa didelegasikan<\/h3>\n<p>Direksi dan dewan komisaris PIKK bertanggung jawab atas kualitas laporan grup. Artinya, mereka membutuhkan jejak audit yang menunjukkan siapa menyusun, siapa memverifikasi, dan siapa menyetujui setiap komponen laporan. Persetujuan yang hanya beredar melalui surel atau lampiran spreadsheet sulit dipertahankan saat pemeriksaan. Penggunaan tanda tangan elektronik tersertifikasi dan mekanisme persetujuan berjenjang yang terekam sistem memberikan bukti proses yang lebih kuat, sejalan dengan pengakuan hukum dokumen elektronik dalam UU ITE beserta perubahannya dan PP 71\/2019.<\/p>\n<h2>Langkah Persiapan yang Realistis<\/h2>\n<ul>\n<li><strong>Verifikasi klasifikasi grup.<\/strong> Tentukan apakah grup Anda memenuhi kriteria konglomerasi keuangan dan bentuk kelembagaan induk apa yang diwajibkan, dengan merujuk ketentuan pelaksana yang berlaku.<\/li>\n<li><strong>Susun kamus data grup.<\/strong> Sepakati definisi tunggal untuk entitas, produk, kategori risiko, dan tanggal posisi sebelum membangun sistem apa pun.<\/li>\n<li><strong>Bangun pipeline pengumpulan data.<\/strong> Hindari pengiriman spreadsheet manual; gunakan kanal terstruktur dengan validasi otomatis di titik masuk.<\/li>\n<li><strong>Uji rekonsiliasi intra-grup.<\/strong> Jalankan simulasi periode berjalan untuk menemukan selisih pencatatan sebelum tenggat resmi.<\/li>\n<li><strong>Kunci jejak persetujuan.<\/strong> Pastikan setiap versi laporan memiliki riwayat perubahan, penyetuju, dan waktu penyampaian yang dapat diaudit.<\/li>\n<li><strong>Selaraskan kalender kepatuhan.<\/strong> Petakan seluruh jatuh tempo pelaporan grup dan anggota agar tidak saling menabrak.<\/li>\n<\/ul>\n<p>UU P2SK memberikan dasar hukum yang lebih kokoh bagi pengawasan terintegrasi, sementara detail teknis operasionalnya dituangkan dalam peraturan pelaksana. Grup yang memperlakukan kewajiban ini sebagai proyek data \u2014 bukan sekadar proyek dokumen \u2014 akan menemukan bahwa laporan terintegrasi justru menghasilkan visibilitas risiko yang selama ini terfragmentasi di antara anak perusahaan.<\/p>\n<h3>Pertanyaan yang sering diajukan<\/h3>\n<p><strong>Apakah UU P2SK menciptakan konsep konglomerasi keuangan yang benar-benar baru?<\/strong> Tidak sepenuhnya. Pengaturan konglomerasi keuangan, tata kelola terintegrasi, dan manajemen risiko terintegrasi sudah ada sebelumnya di level POJK. Kontribusi UU P2SK adalah mengukuhkan konsep tersebut pada level undang-undang dan memperkuat dasar hukum pengawasan terintegrasi OJK, termasuk pengakuan atas perusahaan induk konglomerasi keuangan.<\/p>\n<p><strong>Apakah setiap grup yang memiliki dua LJK otomatis wajib membentuk PIKK?<\/strong> Tidak otomatis. Kewajiban dan bentuk kelembagaan induk bergantung pada kriteria yang ditetapkan OJK, antara lain terkait skala dan komposisi grup. Sebagian grup dapat berada di bawah pengaturan yang berbeda. Verifikasikan posisi grup Anda terhadap ketentuan pelaksana yang berlaku, khususnya <a href=\"\/blog\/kewajiban-pelaporan-pikk-pojk-30-2024\/\">POJK 30\/2024<\/a>.<\/p>\n<p><strong>Apakah laporan terintegrasi sama dengan laporan keuangan konsolidasi?<\/strong> Berbeda. Laporan keuangan konsolidasi mengikuti standar akuntansi dan berfokus pada posisi keuangan. Pelaporan terintegrasi bagi konglomerasi keuangan berfokus pada tata kelola, profil risiko agregat, transaksi intra-grup, dan kecukupan permodalan pada level grup, dengan format serta periode yang ditetapkan regulator.<\/p>\n<p><strong>Apakah kepatuhan ini dapat dipenuhi dengan spreadsheet?<\/strong> Secara teknis mungkin pada grup berskala kecil, tetapi berisiko. Volume data lintas entitas, kebutuhan validasi format, serta tuntutan jejak audit atas penyusunan dan persetujuan laporan membuat pendekatan manual sulit dipertahankan saat pemeriksaan maupun saat terjadi perubahan format pelaporan.<\/p>\n<div class=\"dti-product-cta\" style=\"margin:28px 0;padding:18px 20px;border-left:4px solid #2C4A7E;background:#f4f6fa;border-radius:6px\"><strong>Perlu platform pelaporan konglomerasi keuangan?<\/strong><br \/>Pelajari <a href=\"https:\/\/dtisolution.id\/id\/produk\/pikk-reporting\"><strong>platform pelaporan PIKK dari DTI<\/strong><\/a>.<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Konglomerasi keuangan UU P2SK 4\/2023: definisi, peran PIKK, kewajiban pelaporan terintegrasi, dan implikasi praktisnya bagi grup jasa keuangan di Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"author":19941,"featured_media":5492,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1467],"tags":[],"coauthors":[1470],"class_list":["post-5227","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-produk-solusi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5227","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19941"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5227"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5227\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5381,"href":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5227\/revisions\/5381"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5492"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5227"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5227"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5227"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/dtisolution.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=5227"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}