Satu perjanjian kredit di kantor cabang bisa berpindah tangan enam kali sebelum lengkap ditandatangani: dicetak, diparaf debitur, dikirim kurir ke kantor wilayah, ditandatangani pejabat pemutus, dipindai, lalu fisiknya masuk lemari arsip. Kalau satu halaman terlewat paraf, seluruh siklus itu diulang. Banyak organisasi sudah tahu tanda tangan digital bisa memotong rantai ini. Yang sering belum jelas adalah urutan kerjanya, yaitu dokumen mana yang dialihkan dulu, jenis tanda tangan apa yang cukup, dan bagaimana menjaga agar bukti elektroniknya tetap kuat di depan auditor atau hakim lima tahun dari sekarang.

Artikel ini membahas sisi eksekusinya. Dasar hukumnya sudah kami uraikan terpisah dalam tulisan tentang keabsahan hukum tanda tangan elektronik menurut UU ITE dan PP 71/2019. Di sini fokusnya adalah langkah yang bisa Anda jalankan.
Langkah 1: Petakan dokumen sebelum memilih alat
Kesalahan paling umum adalah membeli platform lebih dulu, baru kemudian mencari dokumen yang cocok. Urutannya sebaiknya terbalik. Kumpulkan daftar dokumen yang hari ini masih ditandatangani basah, lalu catat untuk tiap jenis: siapa penandatangannya (internal, nasabah, pasien, vendor), berapa volumenya per bulan, berapa lama retensinya, dan apa akibatnya bila keasliannya dibantah.
Dari inventaris itu biasanya muncul tiga kelompok. Ada dokumen bervolume tinggi dengan risiko rendah, seperti memo internal dan persetujuan cuti. Ada dokumen bernilai hukum atau finansial tinggi, seperti perjanjian kredit, kontrak pengadaan, dan informed consent tindakan medis. Lalu ada dokumen yang memang belum bisa dialihkan.
Dokumen yang tetap perlu kertas
Pasal 5 ayat (4) UU ITE mengecualikan surat yang menurut undang-undang harus dibuat tertulis serta surat beserta dokumennya yang menurut undang-undang harus dibuat dalam bentuk akta notaril atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta. Akta jual beli tanah di hadapan PPAT, misalnya, belum bisa diganti tanda tangan elektronik biasa. Tandai kelompok ini sejak awal supaya proyek tidak macet di tengah jalan karena ada yang menganggap semua dokumen bisa didigitalkan.
Langkah 2: Tentukan tingkat tanda tangan digital per jenis dokumen
PP 71/2019 membedakan tanda tangan elektronik tersertifikasi dan tidak tersertifikasi. Keduanya memiliki kekuatan hukum, tetapi beban pembuktiannya berbeda. TTE tersertifikasi dibuat dengan sertifikat elektronik dari Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) Indonesia yang diakui pemerintah, sehingga identitas penanda tangan dan keutuhan dokumen bisa diverifikasi oleh pihak ketiga tanpa perlu membuktikan ulang sistem internal Anda. Bila Anda masih menimbang perbedaannya untuk konteks perbankan, lihat perbandingan TTE tersertifikasi vs tidak tersertifikasi.
Regulasi umumnya tidak mewajibkan satu jenis untuk semua dokumen, jadi keputusannya berbasis risiko. Untuk dokumen berisiko tinggi, banyak organisasi memilih tanda tangan digital tersertifikasi Tilaka, karena Tilaka berstatus PSrE berinduk dan proses penerbitan sertifikatnya mencakup verifikasi identitas penanda tangan.
| Jenis dokumen | Contoh | Pilihan yang lazim |
|---|---|---|
| Internal, risiko rendah | Memo, persetujuan cuti, nota dinas | TTE tidak tersertifikasi dengan jejak audit sistem |
| Transaksi dengan pihak luar | Perjanjian kredit, kontrak vendor, polis | TTE tersertifikasi, ditambah e-Meterai bila terutang bea meterai |
| Layanan kesehatan | Persetujuan tindakan, resume medis | TTE tersertifikasi yang terintegrasi dengan SIMRS |
| Wajib akta autentik | Akta notaris, akta PPAT | Tetap mengikuti prosedur akta yang berlaku |
Langkah 3: Rancang ulang alur, jangan sekadar memindai kertas
Mengganti pena dengan klik tanpa mengubah alur hanya memindahkan antrean dari meja ke kotak masuk email. Gambarkan ulang alurnya: siapa menandatangani lebih dulu, apakah ada paraf per halaman yang sebenarnya hanya kebiasaan, dan di titik mana dokumen boleh dikunci. Dalam praktik, paraf per halaman sering bisa dihapus karena tanda tangan elektronik berbasis sertifikat sudah mengikat seluruh isi berkas. Satu karakter saja berubah setelah ditandatangani, verifikasinya akan gagal.
Tentukan juga cara penanda tangan membuktikan identitasnya setiap kali menandatangani. Pendaftaran awal biasanya memakai e-KYC berbasis data kependudukan dan biometrik wajah. Saat penandatanganan, pengguna mengotorisasi dengan faktor tambahan seperti OTP atau PIN. Pilihan ini memengaruhi pengalaman nasabah di aplikasi seluler, jadi libatkan tim produk sejak awal, bukan hanya tim legal.
Langkah 4: Integrasikan ke sistem inti
Nilai terbesar muncul ketika penandatanganan terjadi di dalam sistem yang sudah dipakai sehari-hari, misalnya loan origination system di bank, HRIS untuk kontrak kerja, atau SIMRS di rumah sakit. Integrasi lewat API membuat dokumen tidak perlu diunduh lalu diunggah ulang, dan status tanda tangan langsung tercatat di sistem sumber. Untuk rumah sakit, Permenkes 24/2022 tentang Rekam Medis memberi ruang penggunaan tanda tangan elektronik pada rekam medis elektronik, sehingga persetujuan tindakan bisa ditandatangani pasien di tablet bangsal dan langsung menempel pada rekamannya.
Bagi bank dan lembaga jasa keuangan, integrasi ini juga perlu masuk kerangka manajemen risiko TI sesuai POJK 11/2022 tentang Penyelenggaraan Teknologi Informasi oleh Bank Umum, termasuk penilaian pihak penyedia jasa TI. Data identitas yang mengalir ke PSrE adalah data pribadi, sehingga dasar pemrosesan, perjanjian dengan pemroses, dan pemberitahuan kepada subjek data perlu ditata mengikuti UU 27/2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.
Langkah 5: Siapkan e-Meterai untuk dokumen yang terutang bea meterai
Tanda tangan elektronik dan meterai elektronik adalah dua hal berbeda. UU 10/2020 tentang Bea Meterai berlaku juga untuk dokumen elektronik, sehingga perjanjian yang terutang bea meterai tetap membutuhkan e-Meterai. Urutan pembubuhannya perlu diperhatikan agar meterai tidak merusak validasi tanda tangan yang sudah ada. Penjelasan teknisnya ada di artikel cara kerja e-Meterai dan kapan dokumen wajib dimeterai.
Langkah 6: Jalankan pilot, lalu ubah SOP secara resmi
Pilih satu jenis dokumen dengan volume cukup besar dan pemilik proses yang mendukung. Jalankan selama empat sampai delapan minggu, lalu ukur waktu siklus dari draf sampai lengkap, jumlah dokumen yang dikembalikan karena tidak lengkap, dan biaya kurir serta cetak yang hilang. Angka sebelum dan sesudah inilah yang meyakinkan direksi untuk memperluas cakupan.
Setelah pilot berhasil, perbarui SOP, matriks kewenangan, dan kebijakan arsip secara tertulis. Tanpa itu, unit kerja akan terus mencetak dokumen “untuk jaga-jaga”, dan Anda berakhir dengan dua versi yang bisa saling bertentangan.
Langkah 7: Pastikan arsip tetap bisa diverifikasi
Sertifikat elektronik punya masa berlaku, sedangkan retensi dokumen kredit atau rekam medis bisa jauh lebih panjang. Gunakan format yang mendukung validasi jangka panjang, misalnya PDF dengan tanda tangan PAdES yang menyertakan penanda waktu (timestamp) tepercaya dan informasi status sertifikat saat penandatanganan. Dengan begitu, dokumen yang ditandatangani hari ini masih bisa dibuktikan sah walaupun sertifikat penanda tangannya sudah kedaluwarsa.
Simpan berkas aslinya, jangan hasil cetak ulang atau tangkapan layar, di repositori dengan kontrol akses dan log yang tidak bisa diubah. Saat terjadi sengketa, yang diperiksa adalah berkas elektronik itu beserta jejaknya. Untuk gambaran menyeluruh tentang ekosistemnya, Anda dapat merujuk panduan lengkap tanda tangan elektronik tersertifikasi.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah tanda tangan digital sah untuk perjanjian kredit?
Ya. UU ITE dan PP 71/2019 mengakui kekuatan hukum tanda tangan elektronik selama memenuhi persyaratannya. Untuk perjanjian bernilai tinggi, TTE tersertifikasi dari PSrE yang diakui pemerintah memudahkan pembuktian karena identitas dan keutuhan dokumen dapat diverifikasi pihak ketiga.
Apakah gambar tanda tangan yang ditempel di PDF sudah termasuk tanda tangan digital?
Tidak dalam arti yang kuat secara hukum. Gambar tanda tangan hanya tampilan visual dan mudah disalin. Tanda tangan digital berbasis sertifikat mengikat identitas penanda tangan dengan isi dokumen secara kriptografis, sehingga perubahan apa pun setelah penandatanganan dapat terdeteksi.
Berapa lama proses peralihan biasanya berjalan?
Pilot untuk satu jenis dokumen umumnya bisa berjalan dalam hitungan minggu bila integrasinya memakai API yang sudah tersedia. Peralihan menyeluruh lintas unit lebih bergantung pada kesiapan SOP, matriks kewenangan, dan pelatihan pengguna dibanding teknologinya.
Apakah dokumen lama yang sudah ditandatangani basah perlu ditandatangani ulang?
Tidak perlu. Dokumen fisik yang sah tetap sah. Peralihan berlaku untuk dokumen baru. Dokumen lama cukup dikelola sesuai kebijakan arsip, termasuk alih media bila organisasi Anda memutuskan mendigitalkan arsipnya.
Pelajari tanda tangan elektronik tersertifikasi PSrE Tilaka.




Add comment